Rabu, 29 November 2017

Malaria

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronik, yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium dan ditandai dengan demam, anemia, dan splenomegali. Malaria juga adalah suatu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk (mosquito borne diseases). Malaria diinfeksikan oleh parasit bersel satu dari kelas Sporozoa, suku Haemosporida, keluarga Plasmodium. Penyebabnya oleh satu atau lebih dari empat Plasmodia yang menginfeksi manusia: P. Falciparum, P. Malariae, P. Vivax, dan P. Ovale. Dua P. Falciparum ditemukan terutama di daerah tropis dengan resiko kematian yang lebih besar bagi orang dengan kadar imunitas rendah. Parasit ini disebarkan oleh nyamuk dari keluarga Anopheles.
Malaria hampir ditemukan di seluruh bagian dunia, terutama di negara negara yang beriklim tropis dan sub tropis dan penduduk yang beresiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,5 milyar orang atau 41% dari jumlah penduduk dunia. Setiap tahun kasusnya berjumlah 300-500 juta kasus dan mengakibatkan 1,5-2,7 juta kematian, terutama di negara-negara benua Afrika (Prabowo, 2007). Tinjauan situasi di Indonesia tahun 1997 s/d 2001penyakit malaria ditemukan tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia dengan jumlah kesakitan sekitar 70 juta orang atau 35 % penduduk Indonesia yang tinggal di daerah resiko malaria (Depkes RI, 2008).

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan malaria ?
2.    Apa etiologi penyakit malaria ?
3.    Bagaimana epidemiologi penyakit malaria ?
4.    Bagaimana cara penularan penyakit malaria ?
5.    Bagaimana cara pencegahan penyakit malaria ?
6.    Bagaimana cara pengobatan penyakit malaria?
7.    Bagaimana permasalahan malaria di Indonesia ?
8.    Bagaimana asuhan keparawatan pada pasien yang mengalami penyakit malaria ?

C.      Tujuan
1.    Untuk mengetahui penjelasan secara detail tentang penyakit malaria;
2.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit malaria;
3.    Untuk mengetahui etiologi penyakit malaria;
4.    Untuk mengetahui siklus hidup plasmodium;
5.    Untuk mengetahui epidemiologi penyakit malaria;
6.    Untuk mengetahui cara penularan penyakit malaria;
7.    Untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit malaria;
8.    Untuk mengetahui diagnosis penyakit malaria;

D.      Manfaat
1.      Mendapat pengetahuan tentang penyakit malaria secara detail;
2.      Memberikan indormasi mengenai penyakit malaria dan sebagai bahan untuk membuat program pecegahan malaria khususnya di Indonesia;
3.      Sebagai bahan referansi dalam pembuatan karya tulis ilmiah dengan tema yang sama;

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Anatomi Fisiologi Darah
Darah merupakan unit fungsional seluler pada manusia yang berperan untuk membantu proses fisiologis dalam tubuh. Darah tersusun dari 2 bagian, yaitu plasma darah (55%) dan sel darah (45%).
1.      anatomi darah manusia adalah sebagai berikut :
a.       Darah
Darah merupakan komponen esensial mahkluk hidup yang berada dalam ruang vaskuler, karena peranannya sebagai media komunikasi antar sel ke berbagai bagian tubuh dengan dunia luar karena fungsinya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru untuk dikeluarkan, membawa zat nutrein dari saluran cerna ke jaringan kemudian menghantarkan sisa metabolisme melalui organ sekresi seperti ginjal, menghantarkan hormon dan materi-materi pembekuan darah.
b.      Karakteristik darah
Karakteristik umum darah meliputi warna, viskositas, pH, Volume dan kompisisinya; Warna, darah arteri berwarna merah muda karena banyak oksigenyang berkaitan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Viskositas, viskositas darah 3/4 lebih tinggi dari pada viskositas air yaitu sekitar 1.048 sampai 1.066. pH, pH darah bersifat alkaline dengan pH 7.35 sampai dengan 7.45 (netral 7.00). Volume, pada orang dewasa volume darah sekitar 70 sampai 75 ml/kgBB, atau sekitar 4 sampai 5 liter darah. Komposisi, darah tersusun atas dua komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah.
c.       Struktur sel darah
Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter sekitar7.5 mikron, tebal bagian tepi dan bagian tengahnya 1 mikron atau kurang. tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi diffusi oksigen, karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel. Sel darah merah matang mengandung 200-300 juta hemoglobin (terdiri hem merupakan gabungan protoporfirin dengan besi dan globin adalah bagian dari protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa dan 2 rantai beta) dan enzim-enzim seperti G6PD (glucose 6 – phosphate dehydogenase).
d.      Hemoglobin
Hemoglobin adalah protein berpigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah. Normalnya dalam darah pada laki-laki 15,5g/dl dan pada wanita 14,0g/dl (Susan M Hinchliff,1996). Rata-rata konsentrasi hemoglobin pada sel darah merah 32g/dl.
e.       Sel darah putih
Pada keadaan normal jumlah sel darah putih atau leukosit 5000-10000 sel/mm3. Leukosit terdiri dari 2 kategori yaitu yang bergranulosit dan yang agranulosit.
f.       Trombosit
Trombosit merupakan sel tak berinti, berbentuk cakram dengan diameter 2-5 um, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak megakariosit yang terdapat dalam sumsum tulang. Pada keadaan normal jumlah trombosit sekitar 150.000-300.000/mL darah dan mempunyai masa hidup sekitar 1-2 minggu atau kira-kira 8 hari. Trombosit tersusun atas substansi fospolifid yang penting dalam pembekuan dan juga menjaga keutuhan pembuluh darah serta memperbaiki pembuluh darah kecil yang rusak. Trombosit diproduksi di sumsum tulang kemudian sekitar 80% beredar disirkulasi darah hanya 20% yang disimpan dalam limpa sebagai cadangan.
2.      Fisiologi Darah
a.       Transport Internal
b.      Proteksi tubuh terhadap bahaya mikroorganisme, yang merupakan fungsi dari sel darah putih.
c.       Proteksi terhadap cedera dan pendarahan
Proteksi terdahap respon peradangan local terhadapcedera jaringan. Pencegahan perdarahanmerupakan fungsi dari trombosit karena adanya faktor pembekuan, fibrinolitik yang ada dalam plasma.
d.      Mempertahankan temperatur tubuh
Darah membawa panas dan bersirkulasi keseluruh tubuh. Hasil metabolisme juga menghasilkan energi dalam bentuk panas.

B.       Definisi Malaria
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium ditandai dengan demam, anemia, dan splenomegal, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Istilah malaria diambil dari dua kata bahasa Italia yaitu mal (buruk) dan area (udara) atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit malaria juga mempunyai nama lain, seperti demam roma, demam rawa, demam tropik, demam charges, demam kura dan paludisme (Prabowo, 2008).
Soemirat (2009) mengatakan malaria yang disebabkan oleh protozoa terdiri dari empat jenis spesies yaitu plasmodium vivax penyebab malaria tertiana,plasmodium malariae menyebabkan malaria quartana, plasmodium falcifarum menyebabkan malaria tropika dan plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale.
Menurur Achmadi (2010) di Indonesia terdapat empat spesies plasmodium, yaitu :
1.    Plasmodium vivax, memiliki distribusi geografis terluas, mulai dari wilayah beriklim dingin, subtropik hingga daerah tropik. Demam terjadi setiap 48 jam atau setiap hari ketiga, pada siang atau sore. Masa inkubasi plasmodium vivax antara 12 sampai 17 hari dan salah satu gejala adalah pembengkakan limpa atau splenomegali.
2.    Plasmodium faciparu, plasmodium ini merupakan penyebab malaria tropika, secara klinik berat dan dapat menimbulkan komplikasi berupa malaria celebral dan fatal. Masa inkubasi malaria tropika ini sekitar 12 hari, dengan gejala nyeri kepala, pagal linu, demam tidak begitu nyata, serta dapat menimbulakan gagal ginjal.
3.    Plasmodium ovale, masa inkubasi malaria dengan penyebab plasmodium ovale adalah 12 sampai 17 hari, dengan gejala demam setiap 48 jam, relatif ringan dan sembuh sendiri.
4.    Plasmodium malariae, merupakan penyebab malaria quartana yang memberikan gejala demam setiap 72 jam. Malaria jenis ini umumnya terdapat pada daerah gunung, dataran rendah pada daerah tropik, biasanya berlangsung tanpa gejala, dan ditemukan secara tidak sengaja. Namun malaria jenis ini sering mengalami kekambuhan (Achmadi, 2010).

C.      Etiologi
Malaria disebabkan oleh protozoa darah yang masuk kedalam genus plasmodium. Plasmodium  ini merupakan protozoa obligat intaseluler. Pada manusia plasmodium terdiri dari 4 spesies, yaitu plasmodium falciparum, plasmodium vivax, plasmodium malariae, dan plasmodium ovale. Penularan pada manusia dilakukan oleh nyamuk betina Anopheles ataupun ditularkan langsung memalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar serta ibu hamil kepada janinnya. (Harijanto P.N.2000).
Malaria vivax disebabkan oleh Plasmodium vivax yang disebut juga sebagai malaria tertiana. Plasmodium malariae merupakan penyebab malaria malariae  atau malaria kuartana. Plasmodium ovale merupakan penyebab malaria ovale, sedangkan plasmodium falciparum menyebabkan malaria falsiparum atau malaria tropika. Spesies terakhir ini paling berbahaya, karena malaria yang ditimbulkan dapat menjadi berat sebab dalam waktu singkat dapat menyerang eritrosit dalam jumlah besar, sehingga menimbulkan berbagai komplikasi didalam organ-organ tubuh. (Harijanto P.N.2000).
a.    Siklus Hidup Plasmodium
Parasit malaria (plasmodium) mempunyai dua siklus daur hidup, yaitu pada tubuh manusia dan didalam tubuh nyamuk Anopheles betina (Soedarto, 2011).

Siklus hidup plasmodium terdiri dari 2, yaitu siklus sporogoni (siklus seksual) yang terjadi pada nyamuk dan siklus skizogoni (siklus aseksual) yang terdapat pada manusia. Siklus ini dimulai dari siklus sporogoni yaitu ketika nyamuk mengisap darah manusia yang terinfeksi malaria yang mengandung plasmodium pada stadium gametosit. Setelah gametosit akan membelah menjadi mikrogametosit (jantan) dan makrogametosit (betina). Keduanya mengadakan fertilisasi menghasilkan ookinet. Ookinet masuk ke lambung nyamuk membentuk ookista. Ookista ini akan membentuk ribuan sporozoit yang nantinya akan pecah dan sporozoit keluar dari ookista. Sporozoit ini akan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk, salah satunya di kelenjar lunyah nyamuk. Dengan ini siklus sporogoni telah selesai.
Siklus skizogoni terdiri dari 2 siklus, yaitu siklus eksoeritrositik dan siklus eritrositik. Dimulai ketika nyamuk menggigit manusia sehat. Sporozoit akan masuk kedalam tubuh manusia melewati luka tusuk nyamuk. Sporozoit akan mengikuti aliran darah menuju ke hati, sehingga menginfeksi sel hati dan akan matang menjadi skizon. Siklus ini disebut siklus eksoeritrositik. Pada plasmodium falciparum dan plasmodium malariae  hanya mempunyai satu siklus eksoeritrositik, sedangkan plasmodium vivax dan plasmodium ovale mempunyai bentuk hipnozoit (fase dormant) sehingga siklus eksoeritrositik dapat berulang. Selanjutnya, skizon akan pecah mengeluarkan merozoit yang akan masuk ke aliran darah sehingga menginfeksi eritrosit dan dimulailah siklus eritrositik. Merozoit tersebut akan berubah morfologi menjadi tropozoit belum matang , lalu matang dan membentuk skizon lagi yang pecah dan menjadi merozoit lagi. Diantara bentuk tropozoit tersebut ada yang menjadi gametosit dan gametosit inilah yang nantinya akan dihisap lagi oleh nyamuk. Begitu seterusnya akan berulang-ulang terus. Gametosit tidak menjadi penyebab terjadinya gangguan klinik pada penderita malaria, sehingga penderita dapat menjadi sumber penularan malaria tanpa diketahui (karier malaria).
1)   Siklus dalam tubuh manusia
Pada waktu nyamuk Anopheles spp infeksi menghisap darah manusia, sporozoit yang berada dalam kelenjar ludah nyamuk Anopheles masuk kedalam aliran farah selama lebuh kurang 30 menit. Setelah itu sporozoit menuju ke hati dan menembus hepatosit, dan menjadi tropozoit. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000 sampai 30.000 merozoit hati. Siklus ini disebut siklus eksoeritrositik yang berlangsung selama 9-16 hari. Pada plasmodium falciparum dan plasmodium malariae siklus skizogoni berlangsung lebih cepat sedangkan plasmodium vivax dan plasmodium ovale siklus ada yang cepat dan ada yang lambat. Sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, akan tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut bentuk hipnozoit. Bentuk hipnozoit dapat tinggal didalam sel hati selama berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun yang pada suatu saat bila penderita mengalami penurunan imunitas tubuh, maka parasit menjadi aktif sehingga menimbulkan kekambuhan.
2)   Siklus didalam tubuh nyamuk Anopheles betina
Apabila nyamuk Anopheles betina mengisap darah yang mengandung gematosit, didalam tubuh nyamuk gematosit akan membesar ukurannya dan meninggalkan eritrosit. Pada tahap gematogenesis ini, mikrogamet akan mengalami eksflagelasi dan diikuti fertilasi makrogametosit. Sesudah terbentuknya ookinet,parasit menembus dinding sel midgut, dimana parasit berkembang menjadi ookista. Setelah ookista  pecah, sporozoit akan memasuki homokel dan pindah menuju kelenjar ludah. Dengan kemampuan bergeraknya, sporozoit infektif segera menginvasi sel-sel dan keluar dari kelenjar ludah.
Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk kedalam tubuh sampai timbulnya gejala klinis berupa demam. Lama masa inkubasi bervariasi tergantung spesies plasmodium.
Masa prapaten adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai parasitdapat di deteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik.


b.   Tahapan Siklus Plasmodium
Dalam tahapan siklus plasmodium dapat berlangsung keadaan-keadaan sebagai berikut:
1)   Siklus preeritrositik : periode mulai dari masuknya parasit kedalam darah sampai merozoit dilepaskan oleh skizon hati dan menginfeksi eritrosit.
2)   Periode prepaten : waktu antara terjadinya infeksi dan di temukannya parasit didalam darah perifer.
3)   Masa inkubasi  : waktu antara terjadinya infeksi dengan mulai terlihatnya gejala penyakit.
4)   Siklus eksoeritrositik  : siklus yang terjadi setelah merozoit terbentuk di skizoit hepatik, merozoit menginfeksi ulang sel hati dan terulangnya kembali skizogoni.
5)   Siklus eritrositik : waktu yang berlangsung mulai masuknya merozoit kedalam eritrosit, terjadinya reproduksi aseksual didalam eritrosit dan pecahnya eritrosit yang melepaskan lebih banyak merozoit.
6)   Demam paroksismal : serangan demam yang terulang pada malaria akibat pecahnya skizoit matang dan masuknya merozoit kedalam aliran darah.
7)   Rekuren : kambuhnya malaria sesudah beberapa bulan tanpa gejala.

Tabel Tahapan-tahapan Siklus Spesies Plasmodium

Spesies Plasmodium
Plasmodium Vivax
Plasmodium Ovale
Plasmodium Malariae
Plasmodium Falcifarum
Siklus Preeritrositik
8 hari
9 hari
13 hari
5,5-6 hari
Periode Prepaten
11-13 hari
10-14 hari
15-16 hari
9-10 hari
Masa Inkubasi
12-17 hari/ sampai 12 bulan
16-18 hari atau lebih lama
18-40 hari atau lebih lama
9-14 hari
Siklus Eksoeritrositik Sekunder
Ada
Ada
Ada pada beberapa strain
Tidak ada
Jml mezoit per Skizoit Jaringan
Lebih dari 10 ribu
15 ribu
2 ribu
40 ribu
Siklus Eritrositik
48 jam
49-50 jam
72 jam
48 jam
Parasitemia per ml
20 ribu-50 ribu
9 ribu-30 ribu
6 ribu-20 ribu
20 ribu-2 juta
Beratnya Serangan Primer
Ringan sampai berat
Ringan
Ringan
Berat pada penderita non imun
Demam Berulang
Tiap 8-12 jam
Tiap 8-12 jam
Tiap 8-10 jam
Tiap 16-36 jam
Kekambuhan
++
++
+++
Tidak terjadi
Masa Rekuren
Panjang
Panjang
Sangat panjang
Pendek
Lama Infeksi
1,5-3 tahun
1,5-3 tahun
3-50 tahun
1-2 tahun

D.      WOC / Patofisiologis
Patofisiologi pada malaria belum diketahui dengan pasti. Berbagai macam teori dan hipotesis telah dikemukakan. Perubahan patofisiologi pada malaria terutama berhubungan dengan gangguan aliran darah setempat sebagai akibat melekatnya eritrosit yang mengandung parasit pada endotelium kapiler. Perubahan ini cepat reversibel pada mereka yang dapat tetap hidup. Peran beberapa mediator humoral masih belum pasti, tetapi mungkin terlibat dalam patogenesis terjadinya demam dan peradangan. Skizoni eksoeritrositik mungkin dapat menyebabkan reaski leukosit dan fagosit, sedangkan sporozoit dan gametosit tidak menimbulkan perubahan patofisiologik.
Patofisiologi malaria adalah multifaktorial dan mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:
a.      Penghancuran eritrosit
Penghancuran eritrosit ini tidak saja dengan pecahnya pecahnya eritrosit yang mengandung parasit, tetapi juga oleh fagositosis eritrosit yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit, sehingga menyebabkan anemia dan anoksia jaringan. Dengan hemolisis intra vaskular yang berat, dapat terjadi hemoglobinuria (blackwater fever) dan dapat mengakibatkan gagal ginjal.
b.      Mediator endotoksin-makrofag
Pada saat skizoni, eirtosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator yang berperan dalam perubahan patofisiologi malaria. Endotoksin tidak terdapat pada parasit malaria, mungkin berasal dari rongga saluran cerna. Parasit malaria itu sendiri dapat melepaskan faktor neksoris tumor (TNF). TNF adalah suatu monokin, dan sitokin lain yang berhubungan, menimbulkan demam, hipoglimeia dan sindrom penyakit pernafasan pada orang dewasa (ARS = Adult Respiratory Distress Syndrome) dengan sekuestrasi sel neutrofil dalam pembuluh darah paru. TNF dapat juga menghancurkan plasmodium falciparum in vitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang dihinggapi parasit pada endotelium kapiler. Konsentrasi TNF dalam serum pada anak dengan malaria falciparum akut berhubungan langsung dengan mortalitas, hipoglikemia, hiperparasitemia dan beratnya penyakit.
c.       Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi
Eritrosit yang terinfeksi plasmodium falciparum stadium lanjut dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knobs) pada permukaannya. Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan bereaksi dengan antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung plasmodium falciparum terhadap endotelium kapiler darah dalam alat dalam, bukan sirkulasi perifer. Eritrosit yang terinfeksi, menempel pada endotelium kapiler darah dan membentuk gumpalan (sludge) yang membendung kapiler dalam alam-alat dalam.
Protein dan cairan merembes melalui membran kapiler yang bocor (menjadi permeabel) dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan. Anoksia jaringan yang cukup meluas dapat menyebabkan kematian. Protein kaya histidin plasmodium falciparum ditemukan pada tonjolan-tonjolan tersebut, sekurang-kurangnya ada empat macam protein untuk sitoaherens eritrosit yang terinfeksi plasmodium P. Falciparum.

E.      Klasifikasi
Menurut White dan Breman (2008), malaria dapat diklasifikasikan menjadi : Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Masing-masing penyebarannya dapat dijelaskan seperti berikut.
Plasmodium falciparum merupakan malaria yang paling mematikan, terutama di Afrika. Infeksi ini berkembang secara tiba-tiba dan menyebabkan beberapa komplikasi yang mematikan. Namun pengobatan yang efektif, penyakit ini hampir selalu dapat diobati.
Plasmodium vivax merupakan spesies yang secara geografis tersebar paling luas, juga merupakan spesies yang memberikan gejala paling ringan. Namun, penyakit ini dapat kambuh setiap tiga tahun sekali. Spesies ini merupakan spesies yang terdapat cukup banyak di daerah beriklim sedang, khususnya di Asia.
Plasmodium malariae merupakan spesies yang dapat tinggal di dalam darah sangat lama, kemungkinan sampai puluhan tahun, tanpa menimbulkan gejala. Namun, seseorang dengan malaria yang tidak menunjukkan gejala ini bisa menularkan orang lain, dari donor darah ataupun dari gigitan nyamuk lainnya. Plasmodium malariae sudah dimusnahkan diseluruh dunia namun tetap ada di Afrika
Plasmodium ovale merupakan spesies yang jarang. Jenis ini dapat menimbulkan kekambuhan, dan banyak terjadi di Afrika barat.
F.      Manifestasi Klinis
Gejala-gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya pertahanan tubuh penderita, jenis plasmodium malaria, serta jumlah parasit yang menginfeksinya. Umumnya, gejala yang disebabkan plasmodium falciparum lebih berat dan lebih akut dibandingkan dengan jenis plasmodium lain, sedangkan gejala yang disebabkan oleh plasmodium malariae dan plasmodium ovale paling ringan. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan adalah :
1.      Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporulasi). Pada malaria tertiana (plasmodium vivax dan plasmodium ovale), pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisiti demamnya setiap hari ke-3, sedangkan malaria kuartana ( plasmodium malariae) pematangannya setiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan ditandai dengan beberapa serangan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium, yaotu menggigil (15 menit-1 jam), puncak demam (2-6 jam), dan berkeringat (2-4 jam). Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respon imun.
2.      Splenomegali
Splenomegali merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam, dan menjadi keras karena tibunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang bertambah.
3.      Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena plasmodium falciparum. Anemia disebabkan oleh :
a.       Penghancuran eritrosit yang berlebihan.
b.      Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time).
c.       Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang belakang (diseritropoesis).
4.      Ikterus
Ikterus disebabkan oleh gangguan hemolisis dan hepar. Malaria laten adalah masa pasien diluar masa serangan demam. Periode ini terjadi bila parasit tidak dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit masih bertahan dalam jaringan hati.
Relaps adalah timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama. Relaps dapat bersifat :
a.       Relaps jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah serangan pertama hilang karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak.
b.      Relaps jangka panjan (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebih setelah serangan pertama hilang karena parasit eksoeritrosit hati masuk ke darah dan berkembang biak.
Manifestasi umum malaria adalah sebagai berikut :
1.    Masa Inkubasi
Masa inkubasi biasanya berlangsung 8-37 hari tergantung dari spesies parasit (terpendek untuk plasmodium falciparum dan terpanjang untuk plasmodium malariar), beratnya infeksi dan pada pengobatan sebelumnya atau pada derajat resistensi hospes. Selain itu juga cara infeksi yang mungkin disebabkan gigitan nyamuk atau secara induksi (misalnya transfusi darah yang mengandung stadium aseksual).


2.    Keluhan-keluhan prodromal
Keluhan-keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam, berupa : malaise, lesu, sakit kepala, sakit tulang belakang, nyeri pada tulang belakang, nyeri pada tulang dan otot, anoreksia, perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin di punggung. Keluhan prodromal sering terjadi pada plasmodium vivax dan plasmodium ovale, sedangkan plasmodium falciparum dan plasmodium malariae keluhan prodromal tidak jelas.
3.    Gejala-gejala umum
Gejala-gejala klasik umum yaitu terjadinya trias malaria (malaria proxym) secara berrurutan :
·      Periode dingin
Dimulai dengan mengigil, kulit dingit, dan kering, penderita sering membungkus dirinya dengan selimut atau sarung pada saat menggigil, sering seluruh badan gemetar, pucat sampai sianosis seperti otang kedinginan. Periode ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam siikuti dengan meningkatnya temperatur.
·      Periwajah panas
Wajah penderita terlihat meraj, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tubuh tetap tinggi, dapat sampai 40°C atau lebuh, penderita membuka selimutnya, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah dan dapat terjadi syok. Periode ini berlangsung lebih lama dari fase dingin dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan keadaan berkeringat.
·      Periode berkeringat
Penderita berkeringan mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, penderita merasa capek dan sering tertidur. Bila penderita bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa.
G.      Pemeriksaan Penunjang
Anemia pada malaria dapat terjadi akut maupun kronik, pada keadan akut terjadi penurunan yang cepat dari Hb. Penyebab anemia pada malaria adalah pengrusakan eritrosit oleh parasit, penekanan eritropoesis dan mungkin sangat penting adalah hemolisis oleh proses imunologis. Pada malaria akut juga terjadi penghambatan eritropoesis pada sumsum tulang, tetapi bila parasitemia menghilang, sumsum tulang menjadi hiperemik, pigmentasi aktif dengan hyperplasia dari normoblast. Pada darah tepi dapat dijumpai poikilositosis, anisositosis, polikromasia dan bintik-bintik basofilik yang menyerupai anemia pernisioasa. Juga dapat dijumpai trombositopenia yang dapat mengganggu proses koagulasi
Pada malaria tropika yang berat maka plasma fibrinogen dapat menurun yang disebabkan peningkatan konsumsi fibrinogen karena terjadinya koagulasi intravskuler. Terjadi ikterus ringan dengan peningkatan bilirubin indirek yang lebih banyak dan tes fungsi hati yang abnormal seperti meningkatnya transaminase, tes flokulasi sefalin positif, kadar glukosa dan fosfatase alkali menurun. Plasma protein menurun terutama albumin, walupun globulin meningkat. Perubahan ini tidak hanya disebabkan oleh demam semata melainkan juga karena meningkatkan fungsi hati. Hipokolesterolemia juga dapat terjadi pada malaria. Glukosa penting untuk respirasi dari plasmodia dan peningkatan glukosa darah dijumpai pada malaria tropika dan tertiana, mungkin berhubungan dengan kelenjar suprarenalis. Kalium dalam plasma meningkat pada waktu demam, mungkin karena destruksi dari sel-sel darah merah. LED meningkat pada malaria namun kembali normal setelah diberi pengobatan.
1.      Pemerisaan Tetes Darah untuk Malaria
Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negative tidak mengenyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi tiga kali dan hasil negative maka diagnosa malaria dapat dikesampingkan. Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui :
a.       Tetesan preparat darah tebal. Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis. Sediaan mudah dibuat khususnya untuk studi di lapangan. Ketebalan dalam membuat sediaan perlu untuk memudahkan identifikasi parasit. Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang pandangan dengan pembesaran kuat). Preparat dinyatakan negative bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan pembesaran 700-1000 kali tidak ditemukan parasit. Hitung parasit dapat dilakukan pada tetes tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Bila leukosit 10.000/ul maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50 merupakan jumlah parasit per mikro-liter darah.
b.      Tetesan preparat darah tipis. Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal sulit ditentukan. Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite count), dapat dilakukan berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah merah. Bila jumlah parasit > 100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat. Hitung parasit penting untuk menentukan prognosa penderita malaria. Pengecatan dilakukan dengan pewarnaan Giemsa, atau Leishman’s, atau Field’s dan juga Romanowsky. Pengecatan Giemsa yang umum dipakai pada beberapa laboratorium dan merupakan pengecatan yang mudah dengan hasil yang cukup baik.
2.      Tes Antigen : p-f test
Yaitu mendeteksi antigen dari P.falciparum (Histidine Rich Protein II). Deteksi sangat cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik, tidak memerlukan alat khusus. Deteksi untuk antigen vivaks sudah beredar dipasaran yaitu dengan metode ICT. Tes sejenis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase dari plasmodium (pLDH) dengan cara immunochromatographic telah dipasarkan dengan nama tes OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi dari 0-200 parasit/ul darah dan dapat membedakan apakah infeksi P.falciparum atau P.vivax. Sensitivitas sampai 95 % dan hasil positif salah lebih rendah dari tes deteksi HRP-2. Tes ini sekarang dikenal sebagai tes cepat (Rapid test).
3.      Tes Serologi
Tes serologi mulai diperkenalkan sejak tahun 1962 dengan memakai tekhnik indirect fluorescent antibody test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibody specific terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostic sebab antibody baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. Manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji saring donor darah. Titer > 1:200 dianggap sebagai infeksi baru ; dan test > 1:20 dinyatakan positif . Metode-metode tes serologi antara lain indirect haemagglutination test, immunoprecipitation techniques, ELISA test, radio-immunoassay.
4.      Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)
Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan tekhnologi amplifikasi DNA, waktu dipakai cukup cepat dan  sensitivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. Tes ini baru dipakai sebagai sarana penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.

H.      Penatalaksanaan
Malaria diobati dengan obat yang mengganggu siklus hidup ataupun metabolisme Plasmodium (Parmet S. et al, 2007). Roe dan Pasvol (2009) membagikan pengobatan malaria kepada dua kategori yaitu, pengobatan malaria non-falsiparum dan pengobatan malaria falsiparum.
Pada malaria non falsiparum, yaitu malaria yang disebabkan oleh Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae atau Plasmodium knowlesi, infeksi bisa diobati dengan obat standar yaitu klorokuin (Roe & Pasvol, 2009). Harga murah dan ketersediaan klorokuin menyebabkannya sebagai antimalarial yang paling sering digunakan. Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium malariae hampir selalu sensitif terhadap obat ini dan hanya beberapa strain Plasmodium vivax dari daerah Oceania yang resistan (Finch, R.G. et al, 2005). Roe & Pasvol (2009) mengatakan bahwa vaquone dan proguanil, atau meflokuin, ataupun kuinin tambah tetrasiklin dapat diberi pada kasus Plasmodium vivax yang resistan. Primakuin digunakan untuk mengeradikasi hipnozoit yang menyebabkan relaps. Menurut Marano & Freedman (2009), Plasmodium knowlesi sensitif terhadap semua obat antimalarial yang biasa digunakan dan tidak memerlukan regimen pengobatan yang khas.
Terdapat peningkatan resistensi terhadap klorokuin dan sulfadoksin pada infeksi malaria falciparum sehingga obat-obatan tersebut tidak bisa digunakan sebagai pengobatan infeksi tersebut. Infeksi malaria falsiparum ringan sering diobati dengan kombinasi obat atovaquone dan proguanil, artemether dan lumefantrin yang bisa ditoleransi lebih baik daripada penggunaan kuinin. Meflokuin juga bisa digunakan sebagai pengobatan infeksi malaria ringan. (Roe & Pasvol, 2009).
Infeksi malaria falciparum berat merupakan suatu kondisi gawat darurat dan memerlukan penanganan yang segera. Rosenthal (2008) mengatakan bahwa sampai tahun 2007, kuinidin secara intravena merupakan terapi pilihan. Namun sekarang sudah terdapat sediaan artesunate secara intravena dan ini merupakan terapi pilihan terbaru oleh karena obat ini mempunyai efektivitas yang lebih tinggi serta efek samping yang kurang berbanding dengan kuinidin. Menurut Rosenthal (2008), WHO (2006) merekomendasikan artesunate secara intravena sebagai pilihan pengobatan untuk orang dewasa dan kanak-kanak yang terinfeksi dengan malaria berat di kawasan dengan kadar penularan yang rendah. Pada daerah dengan kadar penularan yang tinggi, WHO merekomendasikan pengobatan dengan artesunate, artemether atau kuinin.
Malaria berat ataupun hitung parasit yang melebihi 1% pada pasien non-imun merupakan suatu keadaan gawat darurat. Kuinin harus diberikan secara intravena dengan segera. Fasilitas perawatan intensif seperti ventilasi mekanik dan dialisis mungkin diperlukan. Anemia berat mungkin akan memerlukan transfusi darah. Pemantauan yang teliti terhadap keseimbangan cairan merupakan hal yang penting oleh karena edema paru dan gagal ginjal pre-renal sering berlaku pada keadaan seperti ini (Finch, R.G. et al, 2005).

I.      Pencegahan
Pencegahan malaria secara umum meliputi tiga hal, yaitu edukasi, kemoprofilaksis, dan upaya menghindari gigitan nyamuk. Edukasi adalah faktor terpeenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setiap masyarakat atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. Materi utama edukasi adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria, resiko terkena malaria, dan yang terpenting pengenalan tentang gejala dan tanda malaria, pengobatan malaria terutama stand-by emergency self-treatment (SBET), dan pencegahan malaria dengan komoprofilaksis serta pencegahan gigitan nyamuk, dan mengetahui tentang upaya untuk menghilangkan tempat perindukan nyamuk seperti membuat drainase yang efektif, dan singkirkan tempat pembiakan nyamuk terutama rawa atau tempat air tergenang.
1.      Pencegahan Malaria dengan Kelambu
Upaya paling efektif mencegah malaria adalah menghindari gigitan nyamuk anopheles. Upaya tersebut dengan menggunakan dan memasang kelambu di tempat tidur. Kelambu memberikan perlindungan terhadap nyamuk, lalat, dan serangga lainnya termasuk penyakit yang disebabkan serangga-serangga tersebut, seperti malaria dan filariasis.
Kelambu merupakan sebuah tirai tipis, tembus pandang, dengan jaring-jaring yang dapat menahan berbagai serangga menggigit atau mengganggu orang yang akan menggunakannya. Jaring-jaring dibuat sedemikian rupa sehingga walaupun serangga tidak dapat masuk tetapi masih memungkinkan untuk melalui udara. Kelambu umum digunakan seperti tenda yang menutupi tempat tidur. Agar dapat berfungsi efektif, perlu dijaga agar tidak terdapat lubang atau celah yang memungkinkan serangga masuk.
Kelambu memiliki dua jenis yaitu kelambu biasa tanpa insektisida dan kelambu berinteksida. Kelambu yang ditambahkan insektisida dikembangkan pada tahun 1980 untuk mencegah malaria. Kelambu ini ditambahkan insektisida piretroid atau permetrin yang mampu membunuh dan mengusir nyamuk. Akan tetapi insektisida pada kelambu tidak akan bertahan lama karena akan hilang setelah enam kali pencucian dan perlu ditambahkan insektisida kembali. Oleh karena itu kelambu ini dianggap tidak efektif mengatasi malaria dalam jangka panjang, sehingga industri kemudian mengembangkan kelambu yang ditambahkan insektisida yang mampu bertahan lama. Masih menggunakan insektisida piretroid tetapi diikat dengan bahan kimia tertentu, kelambu ini tahan dicuci 20 kali sehingga dapat digunakan tiga tahun atau lebih.
Dari beragam merk kelambu malaria yang dijual salah satunya adalah Olyset Net produk dari Sumitomo merupakan produk yang sering digunakan Pemerintah dalam pencegahan anti malaria atau demam berdarah termasuk program Unicef di Indonesia.
Kelambu Olyset Net  adalah Kelambu berinsektisida tahan lama yang kandungan bahan aktifnya Permetrine telah bercampur dengan bahan kelambu Polythlene yang kuat dengan efektifitas residu bahan aktifnya 7 tahun.
Kelambu Olyset Net tersedia dalam 2 warna yaitu warna putih dan warna biru. Model kelambu Olyset Net ada yang Large Family dengan ukuran (180cm x 160 cm x 150 cm) dan Model Extra Large Family (180 cm x 190 cm x 150 cm). Selain itu Olyset Net adalah kelambu Malaria pertama yang mendapatkan rekomendasi dari WHO dengan Whopes full recomendation.
2.      Proses Pendistribusian Kelambu
Pendistribusian kelambu berinsektisida ditujukan untuk kepentingan masyarakat yang sakit dalam hal ini masyarakat miskin. Bantuan ini tujuannya untuk membantu masyarakat miskin terhindar dari penyakit malaria dan dianggap ini sebagai penyebab kemiskinan, karena masyarakat dapat kehilangan pekerjaan dan produktifitasnya menurun. Perindustrian kelambu berinsektisida merupakan kegiatan pemberdayaan yang melibatkan unsur lain. Perindustrian kelambu adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang melibatkan masyarakat, tokoh agama/organisasi keagamaan, tokoh masyarakat/organisasi kemsyarakatandan LSM setempat yang difasilitasi oleh kader posmaldes bersama petugas puskesmas, pustu atau bidan di desa dan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan malaria sehingga masyarakat menggunakan kelambu sesuai dengan petunjuk dari petugas kesehatan dan kader posmaldes setempat sert dapat meningkatkan rasa kemandirian masyarakat untuk terus memperluas cakupan keluarga atau masyarakat secara swadaya dengan berbagai upaya disepakati masyarakat misalnya dengan sistem dana bergulir, arisan dan lain-lain.

J.      Pengobatan
Berbeda dengan penyakit-penyakit lainnya, malatia tidak dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit yang dapat tinggal didalam tubuh manusia seumur hidup. Sejak 1638, malaria diobati dengan ekstrak kulit tanaman cinchona. Bahan ini sangat beracun tetapi dapat menekan pertubuhan protozoa dalam darah. Saat ini ada tiga jenis obat anti malaria, yaitu Chloroquine, Doxycyline, dan Melfoquine. Tanpa pengobatan yang tepat akan dapat mengakibatkan kematian penderita. Pengobatan harus dilakukan 24 jam sesudah terlihat adanya gejala.
Pengendalian malaria selalu mengalami perkembangan, salah satunya dalam hal pengobatan. Dulu malaria diobati dengan klorokuin, setelah ada laporan resistensi, saat ini telah dikembangkan pengobatan baru dengan tidak menggunakan obat tunggal saja tetapi dengan kombinasi yaitudengan ACT (Artemisinin-based Combination Therapy). Pengobatan yang efektif ini harus memenuhi tiga kategori, yaitu :
1)      Jenis obat yang diperoleh adalah ACT,
2)      Obat tersebut diperoleh penderita maksimum 24 jam setelah sakit, dan
3)      Dosis obat diperoleh untuk 2 hari dan diminum seluruhnya.
      
K.      Komplikasi
Penyakit malaria tidak boleh disepelekan karena jika dibiarkan tanpa diobati bisa menyebabkan pada kematian. Kondisi tersebut dapat terjadi pada malaria tingkat berat. Salah satunya yaitu pada malaria karena infeksi plamodium falciparum yang dapat menyebabkan black water fever atau air kencing hitam karena sel darah hancur. Sel darah merah pada penderita malaria dalam keadaan lengket. Seterusnya, perlengketan tersebut mampu menyebabkan gangguan pada proses aliran darah. Maka jika aliran darah yang terganggu menuju otak, yang terjadi adalah komplikasi menuju otak dan itu bisa berbahaya (M Daris Raharjo, 2011). Hingga sampai saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah malaria. Namun begitu tetap masih ada upaya untuk menciptakan vaksin tersebut. Sementara itu, cara yang paling efektif untuk malaria adalah mencegahnya. Salah satu cara mencegah yakni minum obat antimalaria saat hendak pergi ke daerah dengan endemis tinggi malaria. Obat antimalaria diminum satu minggu sekali mulai satu minggu hingga dua minggu sebelum keberangkatan. Kemudian obat itu tetap diteruskan sampai empat minggu setelah kembali ke lokasi endemis malaria tinggi. Sedangkan cara lain yang efektif yaitu dengan membasmi sarang nyamuk. Dalam hal ini cara paling efektif adalah 3 M yaitu menguras, menutup dan mengubur. Dengan kata lain, menguras tempat air, menutup tempat air dan mengubur barang-barang yang berpotensi menampung air. Selain itu, usahakan menghindarkan diri dari gigitan nyamuk penyebab malaria. 

BAB III
GAMBARAN KASUS

A.      Pengkajian
1.      Data Dasar (Identitas Pasien)
Nama                                       :Tn.M
Usia                                         : 29 Tahun
Status perkawinan                   : belum menikah
Pekerjaan                                 : swasta
Pendidikan                              : SD
Suku Bangsa                           : Banjar
Bahasa yang digunakan          : Banjar
Alamat Rumah                        : Muara Terusan Raya
Sumber Biaya                          : SKTM
Tanggal masuk RS                  : 9 Juli 2012
Tanggal Pengkajian                 : 10 Juli 2012
Diagnosa Medis                      : Malaria Falciparum
2.      Riwayat Keperawatan
a.       Riwayat Kesehatan Sekarang
1)      Alasan masuk Rumah Sakit
Klien masuk Rumah Sakit RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas pada tanggal 9 Juli 2012 dengan keluhan, badan terasa lemah, badan terasa panas dingin, nyeri ulu hati dan muntah sebanyak 2x.
2)      Keluhan Utama
Pada saat pengkajian tanggal 10 juli 2012 di ruang mawar pada jam 10.00 wib, klien mengeluh, badan terasa panas, mual-mual, tidak nafsu makan, dan nyeri ulu hati.Tanda-tanda vital :
ü  Tekanan darah : 100/60 mmHg
ü  Nadi : 66 x / menit
ü  Respirasi : 22 x / menit
ü  Suhu : 38,4°C
b.      Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan sudah pernah mendapatkan imunisasi secara lengkap, klien mengatakan tidak ada riwayat alergi terhadap makanan apapun, Klien mengatakan tidak pernah mengalami kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja, Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah di rawat di rumah sakit, Klien mengatakan apabila mengalami sakit klien hanya membeli obat-obatan yang di jual di warung yang dekat dengan rumahnya.
c.       Riwayat kesehatan keluarga
Ibu klien mengatakan tidak ada riwayat keluarga yang pernah mengalami yang sama dengan klien atau anak ketiganya, dan klien mengatakan dia adalah anak ke-3 dari 4 bersaudara.
d.      Riwayat Psikososial dan spiritual
Orang yang terdekat dengan klien adalah kedua orang tua dan saudara-sudaranya, Interaksi dalam keluarga baik, Pembuat keputusan           biasanya di lakukan dengan cara musyawayah atau Kesepakatan keluarga bersama-sama, Kegiatan sosial yang di lakukan klien di masyarakat ialah Ikut gotong royong (bila ada).
Dampak penyakit klien terhadap keluarga Keluarga klien mengatakan sudah merasa tenang karena klien sudah di rawat dengan tepat di rumah sakit, Masalah yang mempengaruhi klien saat ini klien mengatakan tidak ada masalah berat yang mempengaruhi klien, klien hanya ingin cepat sembuh sehingga bisa bekerja lagi.
Mekanisme koping terhadap stress klien mengatakan dalam menghadapi suatu masalah, maka akan dirundingkan bersama-sama dengan keluarga, Persepsi klien terhadap penyakit yang dipikirkan saat ini adalah kondisi penyakitnya, harapan setelah menjalani perawatan Klien mengatakan bisa segera sembuh, Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit klien mengatakan hanya istirahat tidak bekerja seperti sebelum sakit.
Tugas perkembangan menurut usia saat ini Klien mengatakan dirinya bekerja sebagai petani di ladang, sistem nilai dan kepercayaan aktivitas agama/kepercayaan yang dilakukan klien mengatakan keluarganya menganut agama Islam, kegiatan yang sering dilakukan adalah sholat lima waktu dan tidak ada sistem nilai kepercayaan yang bertentangan dengan kesehatan klien.
e.       Kondisi lingkungan rumah
Klien mengatakan keadaan rumahnya cukup bersih, rumah klien berada dipinggir jalan. Untuk keperluan minum, memasak keluarga Tn.M menggunakan air hujan atau air sumur.
f.       Pola kebiasaan sehari-hari sebelum sakit
1)      Pola nutrisi
Frekuensi makan 2-3 kali per hari, nafsu makan baik, jenis makanan: nasi, sayur-mayur, ikan, kadang dengan buah-buahan. Pantangan terhadap makanan tidak ada. Kebiasaan sebelum makan adalah mencuci tangan dan berdo’a.
2)      Pola eliminasi
a)      BAK
Frekuensi 3-4 kali per hari, warna kuning muda, tidak ada keluhan saat BAK.
b)      BAB
Frekuensi 1 kali per hari, waktu tidak tentu, konsistensi setengah padat, tidak ada keluhan saat BAB dan tidak ada penggunaan laksatif/pencahar.
3)      Pola personal hygiene
a)     Mandi
Frekuensi 2 kali/hari, menggunakan sabun.


b)    Oral hygiene
Frekuensi 2 kali/hari, waktu pagi dan sore.
c)     Cuci rambut
Frekuensi 2 kali/minggu, menggunaka sampo.
4)      Pola istirahat/tidur
Lama tidur 7-8 jam per hari, tidur siang kadang-kadang, tidak ada keluhan saat tidur.
5)      Pola aktivitas dan latihan
Klien mengatakan kegiatan dalam pekerjaannya adalah  bertani, waktu bekerja pagi sampai siang. Klien mengatakan tidak pernah berolahraga, kegiatan waktu luang yaitu berkumpul dengan dengan keluarga. Tidak ada keluhan dalam beraktivitas.
6)      Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Klien mengatakan merokok kurang lebih sejak 5 tahun yang lalu. klien tidak pernah minum-minuman keras/alkohol dan tidak ada ketergantungan obat.
1.      Pengkajian Fisik
a.       Sistem penglihatan
Posisi mata simetris, kelopak mata normal, gerakan normal, pergerakan bola mata normal, konjungtiva merah, kornea normal, sklera normal, pupil isokor, otot-otot mata normal, fungsi penglihatan baik, tidak ada tanda-tanda radang, tidak menggunakan kaca mata ataupun lensa kontak.
b.      Sistem pendengaran
Daun telinga normal tidak sakit digerakkan, bentuk normal, tidak ada serumen, kondisi telinga normal tidak ada bengkak, kemerahan, lesi, tidak ada cairan dari dalam telinga, tidak ada perasaan penuh pada telinga, tidak ada tinitus, fungsi pendengaran normal, tidak ada menggunakan alat bantu pendengaran.

c.       Sistem bicara
Tidak ada gangguan pada sistem bicara, klien mampu mengucapkan kalimat-kalimat secara baik dengan susunan kalimat yang tepat, intonasi kalimat baik.
d.      Sistem pernafasan
Jalan napas bersih tidak ada sumbatan, pernapasan tidak sesak, klien tidak menggunakan otot-otot bantu pernapasan, frekuensi napas 22 kali per menit, irama teratur, kedalaman dalam, tidak ada batuk, suara napas normal (vesikuler).
e.       Sistem kardiovaskuler
Sirkulasi perifer : Nadi 66 kali per menit, irama teratur, tekanan darah 100/60 mmHg, tidak ada distensi vena jugularis kiri maupun kanan, temperatur kulit hangat, warna kulit kemerahan, pengisian kapiler + 2 detik, tidak ada edema. Sirkulasi jantung : irama teratur, tidak ada kelainan bunyi jantung, tidak ada keluhan seperti berdebar-debar, dan lain-lain. Tidak ada nyeri dada.
f.       Sistem pusat saraf
Sirkulasi serebral : tingkat kesadaran compos mentis, pupil isokor, glasgow coma scale (gcs). Respon membuka mata (e): klien dapat membuka mata secara spontan, baik secara reflek maupun dengan perintah. Nilai = 4. Respon motorik (m): dapat melakukan gerakan sesuai perintah, reflek motorik baik bila diberi rangsangan, klien bereaksi terhadap rangsangan. Nilai: 6. Respon verbal (v): klien dapat mengucapkan kalimat dengan baik dan tepat, intonasi baik. Nilai= 5. Jadi skor gcsnya = 15 (e:4, m:6, v: 5), tidak ada terjadi peningkatan tekanan intrakranial seperti kejang, kelumpuhan, dan lain-lain.
g.      Sistem pencernaan
Keadaan mulut: gigi klien cukup bersih, tidak ada kesulitan menelan, saliva normal, ada mual , nafsu makan kurang (hanyaa menghabiskan ½ porsi yang di sediakan), tidak ada nyeri di daerah perut, tidak ada rasa penuh diperut, klien belum ada BAB, tidak ada diare, hepar tidak teraba, abdomen baik.
h.      Sistem hematologi
Hb: 11.8 gram/dl, Ht: 36 %, leukosit: 4.700 /mm³, trombosit: 234.000 /mm³. Eritrosit: 4.11 /dl, Tidak ada mengeluh kesakitan, tidak ada perdarahan.
i.        Sistem endokrin
Nafas tidak berbau aseton, tidak ada gangren, eksoftalmus, tremor maupun pembesaran kelenjar tiroid.
j.        Sistem Urogenital
Tidak ada perubahan dalam pola berkemih, BAK 4-5 x/hari dengan terkontrol, rasa sakit saat BAK tidak ada, tidak teraba distensi.
k.      Sistem integumen
Keadaan rambut Tekstur baik, tidak ada ketombe, cukup bersih, Kuku Bersih dan tidak panjang, tidak ada kelainan bentuk pada kuku,  Turgor kulit Elastis, Warna kulit Kemerahan, Keadaan kulit Baik, tidak terdapat lesi, memar, Kebersihan Kulit klien cukup bersih.
l.        Sistem muskuloskeletal
Tidak ada kesulitan dalam pergerakan, tidak ada fraktur dan tidak tampak adanya kelainan bentuk tulang dan sendi.
m.    Sistem kekebalan tubuh
Suhu : 38,4C
Berat badan klien setelah sakit: 55 kg
Berat badan sebelum sakit : klien tidak tahu
Tidak ada pembesaran getah bening
1.      Pemeriksaan penunjang
a.       Laboratorium (tanggal, 9 Juli 2012)
Pemeriksaan
Hematologi
Hasil
Pemeriksaan
Nilai
Normal
Hb

Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
12,8 gr%

4,41
5.800/mm3
79.000/mm3
38%
P : 11,5 – 16,0 gr%
L : 13,5 – 18,0 gr%
4 – 6 juta / mm3
4.500-11.000 gr%
150.000-400.000 /mm3
37 – 48%
b.      Laboratorium (tanggal, 10 Juli 2012)
Pemeriksaan
Hematologi
Hasil
Pemeriksaan
Nilai normal
a) Hb

b) eritrosit
c) Leukosit
d) Trombosit
e) Hematokrit  
f) Malaria
11,8 gr%

4.11
5.700/mm3
68.000/mm3
36%
(+), plasmodium palciparum
P:11.5-16.0 gr%
L:13,5-18,0 gr%
4-6 juta / mm3
4.500-11.000 gr%
150.000-400.000 /mm3
37-48 %
- / negatif

A.      Diagnosa
1.      Hipertermia berhubungan dengan Parasit Plasmodium. Ditandai dengan :
a.       Klien mengatakan badannya panas
b.      Klien mengatakan pusing
c.       Suhu tubuh jam 10.00 WIB 38,4°C
d.      Klien menggigil
e.       Badan klien teraba hangat
f.       Pemeriksaan malaria (DDR) : plasmodium Falciparum (+)
g.      Trombosit : 68.000 / mm3


2.      Gangguan rasa nyaman (nyeri epigastrium) berhubungan dengan peningkatan asam lambung. Ditandai dengan :
a.       Klien mangatakan nyeri pada bagian ulu hati, nyeri seperti ditusuk-tusuk
b.      Klien mengatakan nyerinya bisa tersa bila saat menggigil
c.       Klien meringis
d.      Klien gelisah
e.       Skala nyeri, sedang, 0 1 2 3 (4) 5 6 7 8 9 10
3.      Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Ditandai dengan :
a.       Klien mengatakan perutnya terasa mual
b.      Klien mengatakan hanya menghabiskan 1/2 porsi makanan yang disediakan rumah sakit
c.       Klien mengatakan perut bisa terasa mual saat setelah makan
d.      Klien tampak sering memegangi perut bagian atas
e.       Klien tampak hanya menghabiskan ½ porsi makanan yang disediakan oleh tim gizi
f.       BB : 55 kg
g.      TB : 163 vm
h.      IMT : 19,97 (normal)
4.      Resiko kekambuhan berulang berhubungan dengan ketidaktahuan tentang penyakit. Ditandai dengan :
a.       Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakit malaria
b.      Klien tampak tidak bisa menjawab ketika ditanya tetang penyakit malaria
c.       Klien tampak bingung sewaktu ditanya tentang penyakit malaria
A.      Intervensi
Hari/ Tanggal
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Perencanaan
Intervensi
Rasional
1
2
3
4
5
Selasa, 10 Juli 2012
1.    Hipertermia berhubungan dengan Parasit Plasmodium
 Ditandai dengan :
-   Klien mengtakan badannya panas
-   Klien mengatakan pusing
-   Suhu tubuh jam 10.00 wib 38.4 C
-   Klien menggigil
-   Badan klien terasa hangat
-   Pemeriksaan malaria (DDR) : plasmodium Falciparum (+)
-   Trombosit : 68.000 / mm3
Setelah di lakukan tindakan keperwatan 2 x 24 jam peningkatan suhu tubuh (hipertermia) dapat berkurang,
Dengan kriteria hasil:
-    klien mengatkan badannya tidak panas lagi
-    klien mengatakan kepalanya tidak pusing lagi
-    klien tidak menggigil lagi
-    suhu tubuh dalam batas normal 36-37  C
-    badan klien tidak teraba hangat lagi
1.   observasi tanda-tanda vital  terutama suhu





2.   berikan kompres hangat pada axilla dan prontal






3.   anjurkan klien untuk menggunakan selimut tebal bila menggigil


4.   anjurkan klien untuk banyak minum air hangat







5.   kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antipiretik







1.    untuk mengetahui keadaan umum klien guna menentukan tidakan yang tepat untuk selanjutnya.
2.    kompres hangat dapat membantu mengurangi suhu tubuh, karena dapat membuka pori-pori dan menghasilkan penguapan suhu

3.    selimut yang tebal dapat membantu penguapan suhu tubuh karena pori-pori terbuka

4.    membantu mengatasi peningkatan suhu tubuh karena dapat meningkatkan metabolisme produk keringat dan kringat

5.    obat anti piretik adalah obat yang gunanya menurunkan suhu tubuh
1
2.     
3
4
5
Selasa, 10 Juli 2012
2.  Gangguan rasa nyaman (nyeri epigastrium) berhubungan dengan peningkatan asam lambung
 Ditandai dengan :
-   Klien mengatakan nyeri di bagian ulu hati, nyeri seperti ditusuk-tusuk.
-   Klien mengtakan nyerinya bisa terasa bila saat menggigil
-   Klien meringis.
-   Klien gelisah
-   Skala nyeri, sedang,  0 1 2 3 (4) 5 6 7 8 9 10
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam, nyeri dapat berkurang atau hilang dengan kriteria hasil :
-       klien mengatakan tidak nyeri lagi
-       klien tidak tampak meringis
-       klien tidak memengangi perutnya lagi
-       klien tidak gelisah
-       skala nyeri 0-1
1.   Kaji tife dan karateristik nyeri







2.   observasi tanda-tanda vital



3.   atur posisi yang senyaman mungkin bagi klien

4.   ajarkan teknik relaksasi dan distraksi








5.   kolaborasi dalam pemberian obat analgetik




1.    untuk mengetahui tife dan karaterisktik nyeri guna menentukan tidakan yang tepat untuk selajutnya

2.    untuk mengetahui keadaan umum klien

3.    posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri

4.    teknik reraksasi dapat mengurangi nyeri karena otot-otot relax dan distraksi dapat mengurangi nyeri dengan cara mengalihkan respon nyeri.

5.    obat analgetik adalah obat yang memblok rasa nyeri dan dapat mengurangi nyeri
1
2
3
4
5
Selasa, 10 Juli 2012
3.    Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
Ditandai dengan :
-   Klien mengtakan perutnya terasa mual
-   Klien mengtakan hanya menghabiskan ½ porsi makanan yang di sediakan rumah sakit
-   Klien mengtakan perutnya bisa terasa mual bila setelah makan
-   Klien sering memengi perutnya
-   Klien hanya menghabiskan ½ porsi makanan yang di sediakan oleh tim gizi
-   BB : 55 kg
-   TB : 163 cm
-   IMT, 19.97 (normal)
Setelah di lakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam, resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi
Dengan kriteria hasil:
-       klien mengatakan perutnya tidak mual-mual lagi
-       klien mengatakan tidak ada nyeri lagi di ulu hati
-       klien tidak sering memengangi perutnya lagi
-       klien mampu menghabiskan porsi makanan yang di sediakan
-        
1.   kaji penyebab tidak nafsu makan








2.   anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering




3.   jelaskan mamfaat nutrisi bagi klien






4.   kolaborasi dalam pemeberian obat dan vitamin.


5.   kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit


1.    untuk mengetahui penyebab yang mempengaruhi nafsu makan klien, guna menentukan tindakan selanjutnya

2.    makan sedikit tapi sering dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan menghindari rasa mual

3.   meningkatkan pengetahuan tentang nutrisi guna memacu nafsu makan m eningkat


4.    dapat mengurangi rasa mual dan vitamin dapat menambah stamina
5.    guna menjaga keseimbangan nutrisi di dalam tubuh
1
2
3
4
5
Selasa, 10 Juli 2012
4.    Resiko kekambuhan berhubungan dengan ketidaktahuan tentang penyakit.
Ditandai dengan :
-       Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakit malaria
-       Klien tampak tidak bisa menjawab ketika di tanya tentang penyakit malaria
-       Klien tampak binggung sewaktu di tanya tentang penyakit malaria
Setelah di lakukan pendidikan kesehatan, pengetahuan klien bertambah
dengan kriteria hasil:
-       klien mengatakan mengerti tentang penyakit malaria
-       klien tidak binggung sewaktu di Tanya tentang penyakit malaria
-       klien mampu menjawab atau menguraiakan kembali tentang penyakit malaria
1.   kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakit malaria



2.   berikan informasi tentang penyakit




3.   pendidikan kesehatan tentang
-       pengertian malaria
-       penyebab malaria
-       tanda dan gejala malaria
-       cara pencegahan penyakit malaria
-       komplikasi malaria
-       pengobatan malaria
1.    untuk mengetahui sejauh mana oengetahuan klien tentang penyakit malaria

2.    supaya klien mendapatkan informasi yang tepat tentang penyakit malaria

3.    untuk meningkatkan tingkat pengetahuan klien tentang penyakit malaria


A.      Implementasi dan Evaluasi
Hari Tanggal
Diagnosa Keperawatan
Implementasi
Evaluasi
Paraf
1
2
3
4
5
Selasa
10 juli 2012



1
















-  Hipertermia berhubungan dengan Parasit Plasmodium


2
-       mengobservasi tanda-tanda vital (jam 10.00)
-       memberikan kompres hangat pada axilla dan prontal (jam 10.10)

3
-       menganjurkan klien untuk menggunakan selimut tebal bila suhu tubuh meningkat (jam 10.10)
-       menganjurkan klien untuk banyak minum air hangat dalam sehari 3-4 liter perhari (jam 10.15)
-       kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antipiretik, paracetamol 500 mg (jam 10.45)
Pukul 14.30.00 WIB
S:
-          klien mengatakan badannya masih panas
-          klien mengatakan kepalanya masih

4
-          pusing

O:
-          saat di palpasi terasa hangat
-          suhu tubuh klien 38.4 C
-          Tekanan darah 110/60 mmhg
-          Pernafasan 22x /menit
-          Nadi 66x /menit

A:
-          Masalah belum teratasi

P:
Lanjutkan intervensi (1,2 3,4 dan 5)









5
1
2
3
4
5
Selasa
10 juli 2012
















-        Gangguan rasa nyaman (nyeri epigastrium) berhubungan dengan peningkatan asam lambung












-          skala nyeri sedang, seperti di tusuk-tusuk, 0 1 2 3 (4) 5 6 7 8 9 10 (jam 10.10)
-          mengobservasi tanda-tanda vital
-          mengatur posisi dengan posisi semi powler (jam 10.20)
-          mengajarkan teknik relaksasi dengan cara menarik nafas dalam melalui hidung dan menghembuskannya secara perlahan melalui mulut, dan teknik distraksi mengalihkan respon nyeri dengan cara berbicara dengan keluarga atau dengan mencubit kulit yang jauh dari daerah nyeri
(jam 10.25)

-          berkolaborasi dengan tim medis dalam pemeberian obat  ranitidine 2 x 1/Ampul (jam 11.50)
(jam 14.40 wib)
S:
-          klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang
O:
-          klien masih tampak gelisah
-          klien masih tampak sering memegangi perutnya
-          skala nyeri tetap, 0 1 2 3 (4)5 6 7 8 9 10
-          suhu tubuh klien 38.4 C
-          Tekanan darah 110/60 mmhg
-          Pernafasan 22x /menit
-          Nadi 66x /menit
A:
Masalah belum teratasi
P:
lanjutkan intervensi (1,2,3,4 dan 5)




















1
2
3
4
5
Selasa
10 juli 2012
-          Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Mual
-          penyebab yang menyebabkan kurang nafsu makan ialah mual-mual (jam 12.00)
-          menganjurkan klien untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering (jam 12.05)
-          menjelaskan mamfaat nutrisi guna memotivasi klien supaya nafsu makan membaik (jam 12.20)
-          kolaborasi dalam pemberian, ondansetron, antasid dan drip neurosambe dalam cairan infus KAEN 3B (jam 11.50)
-          berkolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit (jam 12.00 wib)
(jam 14.50)
S:
-          klien mengatakan mualnya sedikit berkurang
-          klien mengatakan nyeri epigastrium masih terasa
O:
-          klien tampak memegangi perutnya
A:
Masalah belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi
(1,2,3, 4 dan 5)


1
2
3
4
5
Selasa
10 juli 2012
p.    resiko kekambuhan berulang berhubungan dengan ketidaktahuan tentang penyakit
y)    mengkaji pengetahuan klien tentang penyakit malaria (jam 12.50)
z)    memberikan informasi tentang penyakit malaria (jam 12.55)
Ã¥)    memberikan pendidikan kesehatan pada klien dengan :
-          pengertian malaria
-          penyebab malaria
-          tanda dan gejala malaria
-          cara pencegahan penyakit malaria
-          komplikasi malaria
-          pengobatan malaria
(jam 15.10)
S:
-          klien mengatakan sedikit mengerti tentang penyakit malaria
O:
-          klien masih tampak binggung saat di Tanya kembali tentang penyakit malaria
-          klien masih tampak belum mengerti sepenuhnya tentang penyakit malaria
A:
Sebagian masalah teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 3 untuk hari selanjutnya










































































































































































BAB IV
PENUTUP
­
A.      Simpulan
Malaria merupakan suatu penyakit yang bersifat akut maupun kronik, yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium, yang ditandai dengan demam, anemia dan pembesaran limpa. Plasmodium sebagai penyebab malaria terdiri dari 4 spesies, yaitu P. falciparum, P. ovale, P. vivax, dan P. malariae. Malaria juga melibatkan hospes perantara yaitu nyamuk anopheles betina. Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual dalam tubuh nyamuk anopheles betina dan fase aseksual dalam tubuh manusia. Patogenesis malaria akibat dari interaksi kompleks antara parasit, inang dan lingkungan. Pada malaria berat berkaitan dengan mekanisme transport membrane sel, penurunan deformabilitas, pembentukan knob, sitoadherensi, resetting, dan lain-lain.
Manifestasin klinik dari penyakit malaria ditandai dengan gejala prodromal, trias malaria (menggigil panas berkeringat), anemia dan splenomegali. Diagnosis malaria ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Gold standard adalah menemukan parasit malaria dalam pemeriksaan sediaan apus darah tepi. Pengobatan untuk malaria falsiparum, lini pertama: artesunat + amodiakuin + primakuin, lini kedua: kina + dosksisiklin / tetrasiklin + primakuin. Pengobatan malaria vivak dan ovale, lini pertama: klorokuin+primakuin, jika resistensi klorokuin: kina + primakuin, jika relaps: naikkan dosis primakuin. Pengobatan malaria malariae diberikan klorokuin. Untuk profilaksis dapat digunakan dosksisiklin dan klorokuin.


B.       Saran
Perlunya dilakukan program pemberantasan malaria melalui kegiatan:
1.              Menghindari atau mengurangi kontak atau gigitan nyamuk anopheles.
·         Membunuh nyamuk dewasa dengan menggunkan berbagai insektisida.
·         Membunuh jentik baik secara kimiawi (larvasida) maupun biologik (ikan,
·         dan sebagainya).
·         Mengurangi tempat perindukan.
·         Mengobati penderita malaria.
·         Pemberian pengobata pencegahan.
2.      Penatalaksanaan yang efektif dan efisien kepada pasien yang meliputi diagnosis secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
3.      Menganjurkan kepada masyarakat yang akan bepergian ke daerah endemis malaria agar mengkonsumsi kemoprofilaksis malaria.


DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Triyanti, Savitri, Ika, Setiowulan. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.
Mongon Sidi Walter. 2012. Asuhan Keperawatan pada Tn.M dengan Malaria Falciparum diruang Mawar RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas. http://sinagawalter1.blogspot.co.id/
Novita Liza. 2009. “Diagnosis dan Penatalaksanaan Malaria” (PDF). 30(Oktober, 2017). Pekanbaru, Riau.
Prihatsari Purwanto Triamawati. 2011. Komplikasi Penyakit Malaria. http://edisicetak.joglosemar.co/berita/komplikasi-penyakit-malaria-50436.html
Askep Akkes. 2015. Anatomi Fisiologi Sistem Darah Manusia. http://www.akkesaskep.com/2016/04/anatomi-fisiologi-sistem-darah-manusia.html#
Ayu Arista. 2012. Malaria. http://askepns.blogspot.co.id/2012/09/a.html